Di Ujung Pengabdian, Aku Belajar Menjadi Manusia (Refleksi Akhir Masa Bakti Ketua Cabang GMKI Gunungsitoli 2023–2025)

Tidak semua perjalanan diukur dari seberapa jauh seseorang melangkah, ada perjalanan yang justru diukur dari seberapa banyak luka yang mampu ia sembunyikan demi memastikan orang lain tetap berjalan. Demikianlah aku memaknai perjalanan selama mengemban amanah sebagai Ketua Cabang GMKI Gunungsitoli Masa Bakti 2023–2025.

November 2025 menjadi penanda berakhirnya sebuah tanggung jawab organisasi, jabatan ini akan selesai tetapi pelajaran yang kuterima selama memimpin akan tetap tinggal, membentuk cara pandangku terhadap manusia, kepemimpinan, persahabatan, perjuangan, dan kehidupan itu sendiri.

Ketika pertama kali menerima amanah ini, aku membayangkan kepemimpinan sebagai ruang untuk bekerja, melayani, dan membangun. Namun waktu mengajarkan bahwa memimpin jauh lebih rumit daripada sekadar membuat program kerja. Memimpin berarti belajar memahami manusia dengan segala perbedaannya. Ada yang datang dengan idealisme, ada yang datang membawa harapan, ada yang datang karena ingin bertumbuh, tetapi tidak sedikit pula yang datang membawa kepentingannya sendiri.

Di dalam organisasi aku belajar tentang manajemen, aku belajar bahwa sebuah organisasi tidak pernah berjalan hanya karena aturan, tetapi karena kepercayaan. Aku belajar bahwa keputusan yang benar tidak selalu menjadi keputusan yang disukai. Aku belajar bahwa pemimpin sering kali harus memilih jalan yang paling berat demi menjaga jalan yang paling benar.

Aku juga belajar tentang pengkaderan dan indahnya melihat kader bertumbuh, menemukan keberanian berbicara, belajar berpikir kritis, dan akhirnya mampu berdiri dengan kakinya sendiri. Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagi seorang pemimpin selain melihat orang lain menjadi lebih baik daripada dirinya.

Namun di balik semua kebahagiaan itu, ada pelajaran yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas.

Aku belajar tentang pengkhianatan,

Aku belajar tentang fitnah.,

Aku belajar tentang caci maki,

Aku belajar tentang diremehkan,

Aku belajar tentang rasa kecewa yang datang dari orang-orang yang dahulu pernah diperjuangkan,

Dan aku belajar bahwa tidak semua orang mampu menghargai ketulusan.

Ada orang yang mencintaimu selama engkau memenuhi keinginannya dan ada orang yang memujimu selama kepentingannya terakomodir, tetapi ketika engkau berkata “tidak” demi menjaga nilai, mereka berubah menjadi orang pertama yang mempertanyakan bahkan menjatuhkanmu.

Aku memahami bahwa tidak semua orang akan menyukai keputusan yang berlandaskan prinsip. Ketika aku memilih untuk tidak mengakomodir permintaan-permintaan yang bertentangan dengan nilai perjuangan GMKI, sebagian orang merasa kecewa. Ketika aku menolak menjadikan organisasi sebagai alat memenuhi kepentingan pribadi, muncul barisan yang memilih menyerang, menyebarkan isu, membangun prasangka, bahkan menciptakan cerita yang tidak pernah terjadi. Dari hati paling dalam saya rela dibenci dan tidak disukai dari pada melahirkan sebuah kebiasaan yang di anggap benar untuk melahirkan aktivis dollar di ruang GMKI.

Pada awalnya, semua itu terasa menyakitkan.

Tetapi kemudian aku menyadari satu hal.

Bukan karena kita salah, lalu semua orang membenci kita. Kadang justru karena kita tidak mau ikut menjadi salah, maka kita mulai dibenci.

Seorang filsuf Yunani, Socrates, pernah berkata, “Orang yang paling dibenci sering kali adalah orang yang mengatakan kebenaran.” Kalimat itu mengajarkanku bahwa mempertahankan nilai memang tidak pernah murah. Ada harga yang harus dibayar, dan sering kali harga itu adalah kesepian.

Filsuf Aristoteles juga mengingatkan bahwa karakter seseorang dibentuk oleh kebiasaan yang terus ia lakukan. Maka aku memilih membiasakan diri berdiri di atas nilai, bukan di atas tepuk tangan. Sebab tepuk tangan berhenti ketika kepentingan selesai, tetapi integritas tetap hidup bahkan ketika semua orang telah pergi.

Selama memimpin, aku menyadari bahwa jabatan hanyalah kursi yang dipinjamkan. Hari ini kita duduk di atasnya, esok orang lain yang akan melanjutkan. Yang abadi bukanlah jabatan, melainkan jejak yang kita tinggalkan.

Aku tidak ingin dikenang sebagai ketua yang menyenangkan semua orang.

Aku lebih memilih dikenang sebagai pemimpin yang berusaha menjaga marwah organisasi, meskipun harus kehilangan banyak simpati.

Karena organisasi yang besar tidak dibangun oleh pemimpin yang pandai menyenangkan semua pihak, melainkan oleh pemimpin yang berani mengatakan “tidak” ketika nilai-nilai perjuangan mulai diperdagangkan.

Para pahlawan bangsa memberikan pelajaran yang sangat berharga. Mereka tidak berjuang agar disukai semua orang. Mereka tidak berkorban demi popularitas. Bahkan banyak di antara mereka dicaci, dipenjara, difitnah, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang dahulu berjalan bersama. Namun sejarah membuktikan bahwa perjuangan mereka lebih besar daripada penghinaan yang mereka terima.

Mereka mengajarkan bahwa seorang pejuang tidak pernah memilih jalan yang mudah. Ia memilih jalan yang benar.

Demikian juga seorang pemimpin.

Pemimpin bukanlah orang yang selalu mendapat tepuk tangan. Pemimpin adalah orang yang tetap berdiri ketika semua orang memilih mundur.

Alkitab memberikan penghiburan yang begitu dalam melalui Galatia 6:9:

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”

Ayat ini menjadi pengingat bahwa hasil dari sebuah ketulusan tidak selalu terlihat hari ini. Kadang-kadang ia baru dipahami bertahun-tahun kemudian.

Aku juga belajar dari Roma 12:21:

“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”

Mungkin fitnah tidak bisa dihentikan.

Mungkin kebencian tidak bisa dicegah.

Mungkin semua orang tidak akan memahami setiap keputusan yang pernah kuambil.

Namun aku percaya bahwa kebaikan tidak pernah benar-benar kalah. Ia hanya membutuhkan waktu untuk membuktikan dirinya.

Kini masa baktiku telah berakhir.

Aku pergi bukan dengan membawa kesempurnaan, sebab aku sadar bahwa selama memimpin aku pun memiliki kekurangan, keterbatasan, dan mungkin pernah melukai hati orang lain tanpa kusadari. Untuk semua itu, aku memohon maaf dengan tulus.

Namun satu hal yang dapat kusampaikan dengan hati yang tenang: aku tidak pernah mengkhianati nilai-nilai yang kupercaya. Aku tidak pernah sengaja menjadikan organisasi sebagai alat memenuhi kepentingan pribadi. Aku berusaha menjaga nama baik GMKI dengan seluruh kemampuan yang kumiliki.

Terima kasih kepada semua pengurus, kader, senior, alumni, dan sahabat seperjuangan yang tetap berjalan bersama, baik ketika keadaan mudah maupun ketika badai datang silih berganti. Kehadiran kalian menjadi penguat bahwa perjuangan tidak pernah dijalani sendirian.

Dan kepada mereka yang pernah berbeda pandangan denganku, bahkan mungkin pernah melukai dan menjatuhkanku, aku memilih untuk tidak membawa kebencian. Sebab setiap orang sedang belajar melalui jalannya masing-masing. Waktu akan menjadi guru yang paling adil bagi kita semua.

Akhirnya, aku memahami bahwa kepemimpinan bukanlah tentang berapa lama seseorang memegang jabatan. Kepemimpinan adalah tentang seberapa besar ia tetap memegang nilai ketika jabatan itu dimiliki.

Karena pada akhirnya, jabatan akan berakhir.

Nama mungkin akan dilupakan.

Foto-foto akan tersimpan di arsip.

Program kerja akan menjadi dokumen.

Tetapi integritas akan selalu hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah menyaksikannya.

Aku menutup masa bakti ini dengan rasa syukur.

Bukan karena semua harapan tercapai.

Bukan karena semua orang menyukai kepemimpinanku.

Tetapi karena Tuhan mengizinkanku belajar menjadi manusia yang lebih kuat, lebih sabar, lebih bijaksana, dan lebih setia kepada nilai daripada kepada kepentingan.

Terima kasih, GMKI Gunungsitoli.

Engkau bukan sekadar organisasi yang pernah kupimpin.

Engkau adalah rumah yang mengajarkanku bahwa menjadi pemimpin berarti siap disalahkan, siap dikecewakan, siap ditinggalkan, bahkan siap dikhianati.

Namun lebih dari itu, engkau mengajarkanku bahwa pemimpin sejati tetap memilih melayani, sekalipun tidak selalu dihargai.

Soli Deo Gloria.

Tolona Gea

About the Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like these