Tiga hari dua malam mungkin terdengar singkat bagi sebagian orang. Namun bagi mereka yang menjalaninya dengan kaki yang terus melangkah, tubuh yang lelah, pikiran yang diuji, dan hati yang terus bertahan, waktu itu mampu mengubah cara seseorang memandang kehidupan.
Selamat datang kepada sembilan keluarga baru Pecinta Alam Tapak Kaki.
Kalian bukan sekedar menyelesaikan sebuah kegiatan pendidikan dasar. Kalian telah melewati sebuah proses pembentukan karakter yang akan menjadi bekal sepanjang peziarahan hidup. Alam bukan hanya menjadi tempat latihan, tetapi telah menjadi ruang belajar yang tidak pernah berdusta. Hutan tidak pernah memilih siapa yang kuat atau siapa yang lemah. Gunung tidak pernah memberikan penghormatan kepada siapa yang paling banyak berbicara. Alam hanya menghargai mereka yang mau belajar, menghormati sesama, menjaga kehidupan, dan tidak pernah menyerah.
Pelaksanaan DIKSARLA XI Pecinta Alam Tapak Kaki menjadi saksi bagaimana setiap peserta meninggalkan zona nyaman untuk memasuki ruang pembelajaran yang sesungguhnya.
Perjalanan dimulai dari Long March dengan rute Alun-Alun Kota Gunungsitoli menuju Baho Gamira, Desa Fadoro Hilimbowo. Langkah demi langkah bukan hanya mengukur jarak, tetapi mengukur kesabaran, ketekunan, dan semangat untuk tetap berjalan ketika rasa lelah mulai berbicara.
Kalian diperkenalkan dengan berbagai proses pendidikan lapangan seperti Pencarian Nama Rimba, Pencarian Bandana, Susur Gua, Latihan Single Rope Technique (SRT), serta berbagai materi lainnya yang sebelumnya telah diperkuat melalui pembelajaran kelas selama kurang lebih satu bulan.
Semua itu bukan sekedar rangkaian kegiatan.
Semua itu adalah cara alam mendidik manusia.
Filsuf Yunani Heraclitus pernah berkata, “Tidak seorang pun dapat menyeberangi sungai yang sama dua kali.”
Kalimat sederhana ini mengandung makna yang sangat dalam. Setelah mengikuti DIKSARLA, kalian bukan lagi pribadi yang sama seperti ketika pertama kali mendaftarkan diri. Kalian telah berubah. Bukan karena seragam yang berbeda, bukan karena nama rimba yang baru disematkan, tetapi karena cara berpikir kalian telah dibentuk oleh proses.
Di alam, manusia belajar bahwa ego tidak pernah menyelamatkan siapa pun.
Yang menyelamatkan adalah kerja sama.
Yang menguatkan adalah solidaritas.
Yang mempertahankan kehidupan adalah kepedulian.
Karena itulah Pecinta Alam selalu berbicara tentang jiwa korsa. Jiwa yang membuat kita memahami bahwa perjalanan tidak pernah diselesaikan sendirian.
Alkitab dalam Pengkhotbah 4:9-10 berkata, “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!”
Ayat ini seolah menjadi napas dalam setiap perjalanan seorang pecinta alam. Ketika satu orang lelah, yang lain menguatkan. Ketika satu orang takut, yang lain memberi keberanian. Ketika satu orang jatuh, seluruh tim memastikan ia kembali berdiri.
Itulah keluarga.
Itulah Tapak Kaki.

Sejarah para pahlawan bangsa juga mengajarkan bahwa perjuangan tidak pernah lahir dari kenyamanan. Tidak ada pahlawan yang dibentuk oleh kemudahan. Mereka ditempa oleh penderitaan, pengorbanan, dan keyakinan bahwa sesuatu yang besar selalu membutuhkan proses yang panjang.
Begitu juga kalian.
Hari ini mungkin hanya menerima sebuah nama rimba.
Tetapi sesungguhnya kalian sedang menerima amanah.
Nama itu bukan sekedar panggilan.
Nama itu adalah doa.
Nama itu adalah harapan.
Nama itu adalah karakter yang harus kalian rawat sepanjang perjalanan sebagai keluarga besar Pecinta Alam Tapak Kaki.
Untuk Tuhoni Lase “Zino” Matahari tidak pernah memilih kepada siapa ia memberi cahaya. Ia menerangi gunung, lembah, laut, bahkan jalan yang tidak pernah dilaluinya. Jadilah seperti sinar matahari. Kehadiranmu mampu menghangatkan, bukan membakar. Memberi semangat, bukan menyombongkan terang yang kau miliki. Semoga setiap langkahmu menjadi sumber harapan bagi siapa pun yang berjalan bersamamu.
Untuk Indra Gulo “Ewali” Halaman adalah tempat pertama seseorang belajar melangkah sebelum mengenal dunia yang lebih luas. Ia menjadi ruang pulang, tempat bertumbuh, dan tempat kembali ketika perjalanan terasa melelahkan. Jadilah pribadi yang mampu menghadirkan rasa nyaman bagi keluarga, organisasi, dan siapa pun yang membutuhkan tempat untuk kembali menemukan semangatnya.
Untuk Forman Gea “Gawu” Nama ini mengingatkan bahwa setiap kekuatan kecil bila disatukan menjadi kekuatan besar. Jadilah pribadi yang kokoh seperti alam yang tetap berdiri menghadapi panas, hujan, dan badai. tekunlah dalam keteraturan dengan kesederhanaan tanpa ego berikan cinta kasih yang harmonis bagi organisasi dan lingkungan sekitar
Untuk Eben Zai “Ndraso” Lembah selalu berada di bawah, tetapi justru di sanalah kehidupan paling banyak bertumbuh. Air mengalir ke lembah, tanaman berkembang di lembah, dan kehidupan dimulai dari kerendahan. Jadilah pribadi yang rendah hati, sebab orang yang rendah hati akan selalu memiliki ruang untuk terus belajar.
Untuk Iren Halawa “Luaha” Muara adalah tempat berbagai sungai bertemu tanpa saling mempertanyakan asalnya. Jadilah pribadi yang mampu mempersatukan perbedaan, menjadi ruang bagi banyak pikiran, dan menghadirkan kedamaian ketika perbedaan mulai menciptakan jarak.
Untuk Milka Harefa “Ndrofi” Bintang tidak menghilangkan gelapnya malam, tetapi ia memberi arah bagi mereka yang tersesat. Jadilah cahaya kecil yang mampu memberi petunjuk, ketenangan, dan harapan. Tidak perlu menjadi yang paling terang, cukup menjadi cahaya yang tetap setia bersinar ketika orang lain kehilangan arah.
Untuk Fania Lase “Lawuo” Awan selalu bergerak mengikuti angin, tetapi ia membawa kehidupan melalui hujan yang diberikannya. Jadilah pribadi yang mampu menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan tanpa kehilangan nilai dan prinsip. Fleksibel dalam langkah, tetapi teguh dalam karakter.
Untuk Kezia Harefa “Tano” Tanah adalah tempat semua kehidupan berpijak. Ia diinjak, digali, bahkan sering dilupakan, tetapi tetap memberi kehidupan kepada semuanya. Jadilah pribadi yang kuat dalam kesederhanaan, tetap rendah hati, dan menjadi fondasi bagi banyak hal baik yang akan tumbuh di sekitarmu.
Untuk Dearni Zebua “Simbo” Asap selalu menjadi tanda bahwa ada kehidupan, ada perjuangan, dan ada api yang sedang bekerja. Jadilah pengingat bahwa semangat tidak boleh padam. Kehadiranmu hendaknya menjadi pertanda bahwa harapan masih hidup, perjuangan masih berlangsung, dan organisasi ini selalu memiliki generasi yang siap melanjutkan estafet pengabdian.
Hari ini kalian resmi menjadi bagian dari keluarga besar Pecinta Alam Tapak Kaki.
Namun ingatlah, kebanggaan terbesar seorang pecinta alam bukanlah karena pernah mendaki gunung yang tinggi, memasuki gua yang gelap, atau bertahan hidup di tengah hutan.
Kebanggaan terbesar adalah ketika nilai-nilai yang dipelajari di alam mampu dibawa pulang ke dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika disiplin menjadi kebiasaan.
Ketika kepedulian menjadi karakter.
Ketika keberanian berpadu dengan kerendahan hati.
Ketika mencintai alam diwujudkan dengan menjaga kehidupan.
Dan ketika semangat bertahan hidup bukan hanya digunakan di tengah hutan, tetapi juga dalam menghadapi kerasnya kehidupan.
Selamat datang keluarga baru Pecinta Alam Tapak Kaki.
Hari ini kalian bukan hanya menemukan nama rimba.
Kalian telah menemukan keluarga.
Jagalah nama baik organisasi ini sebagaimana kalian menjaga langkah ketika menapaki jalur pendakian. Hormatilah alam sebagaimana kalian menghormati kehidupan. Rawatlah persaudaraan sebagaimana akar pohon saling menguatkan di dalam tanah.
Karena pada akhirnya, seorang pecinta alam tidak dikenang dari seberapa banyak gunung yang pernah ia daki, melainkan dari seberapa banyak manusia yang menjadi lebih baik karena kehadirannya.
Selamat datang, keluarga baru.
Selamat datang di rumah yang akan terus mengajarkan bahwa alam bukan sekadar tempat bertualang, melainkan guru kehidupan yang paling jujur.
Custodia et Conserva
Salam Lestari!


Luar biasa kakak… Salam Lestari