KEPERCAYAAN MENEMUKAN BATASNYA

Saya bukan seseorang yang mudah mempercayai orang lain. Bukan karena saya merasa lebih baik daripada siapa pun, melainkan karena bagi saya, kepercayaan bukan sesuatu yang dapat diberikan dengan cepat. Kepercayaan tumbuh perlahan, melalui waktu, ketulusan, konsistensi, dan pengalaman. Ia seperti sebuah rumah yang dibangun sedikit demi sedikit. fondasinya diletakkan dari percakapan, tiangnya ditegakkan oleh kesetiaan, dan atapnya dibangun oleh keyakinan bahwa seseorang tidak akan menggunakan kepercayaan yang kita berikan untuk melukai kita. Karena itu, ketika kepercayaan yang dibangun dengan susah payah akhirnya dirusak oleh orang yang justru kita percaya, luka yang muncul sering kali bukan sekedar rasa kecewa. Ada sesuatu yang lebih dalam dari perasaan bahwa penilaian kita terhadap seseorang ternyata keliru.

Saya pernah berada pada posisi itu.

Ada seseorang yang saya percayai. Ia bukan orang asing. Ia adalah senior, seseorang yang dalam perjalanan hidup dan organisasi saya memiliki posisi yang membuat saya memandangnya dengan rasa hormat. Ada jarak pengalaman yang membuat saya melihatnya sebagai seseorang yang dapat menjadi tempat belajar, tempat bertanya, bahkan tempat menaruh kepercayaan. Dalam hubungan antara senior dan junior, kepercayaan semacam itu memiliki makna yang tidak sederhana. Seorang senior bukan hanya seseorang yang lebih dahulu berjalan, tetapi sering kali dipandang sebagai orang yang dapat memberikan arah kepada mereka yang sedang belajar menemukan jalan.

Karena itu saya memilih untuk mempercayainya, keputusan itu bukan sesuatu yang saya ambil secara sembarangan. Ada pertimbangan, ada proses, dan tentu ada harapan. Saya percaya bahwa pengalaman seseorang seharusnya membuatnya lebih matang dalam memperlakukan kepercayaan orang lain. Saya percaya bahwa hubungan yang dibangun atas dasar penghormatan akan melahirkan kesetiaan. Saya percaya bahwa seseorang yang telah lebih dahulu merasakan kerasnya perjalanan akan memahami bagaimana rasanya ketika kepercayaan seseorang diletakkan di pundaknya.

Namun kehidupan terkadang memiliki cara yang sangat sunyi untuk mengajarkan bahwa tidak semua orang yang kita percaya akan menjaga kepercayaan tersebut.

Ada orang yang datang membawa ketenangan, tetapi pada akhirnya meninggalkan kegelisahan. Ada orang yang kita anggap sebagai tempat belajar, tetapi justru memberikan pelajaran paling pahit. Ada orang yang kita hormati, tetapi kemudian membuat kita memahami bahwa rasa hormat tidak selalu berarti kita harus menyerahkan seluruh kepercayaan kita kepadanya.

Disitulah saya belajar bahwa mempercayai seseorang bukan berarti kita sedang memastikan bahwa orang tersebut tidak akan pernah mengecewakan kita. Mempercayai seseorang berarti kita sedang memberikan kepadanya kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

Barangkali inilah salah satu paradoks terbesar dalam hubungan antarmanusia dimana kepercayaan selalu mengandung risiko. Kita tidak pernah bisa benar-benar mengetahui apa yang ada di dalam hati seseorang. Kita hanya dapat menilai dari apa yang ia tunjukkan, dari perkataan yang disampaikan, dan dari tindakan yang ia lakukan. Namun manusia adalah makhluk yang kompleks. Seseorang dapat terlihat begitu tulus hari ini dan berubah ketika kepentingannya berubah. Seseorang dapat berbicara tentang kesetiaan ketika keadaan masih menguntungkan, tetapi menunjukkan wajah yang berbeda ketika hubungan mulai tidak memberikan apa yang ia harapkan.

Aristoteles melihat persahabatan sebagai salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia. Bagi Aristoteles, persahabatan yang baik tidak semata-mata dibangun karena manfaat atau kesenangan, tetapi karena adanya penghargaan terhadap kebaikan satu sama lain. Dari pemikiran itu kita dapat memahami bahwa hubungan yang sehat tidak seharusnya hanya bertahan selama masing-masing pihak mendapatkan keuntungan.

Sebab ketika hubungan hanya berdiri di atas kepentingan, maka itu  sebagai persahabatan sebenarnya hanyalah sebuah transaksi yang belum selesai.

Saya kemudian memahami bahwa mungkin salah satu kesalahan terbesar manusia adalah mengira bahwa karena kita tulus kepada seseorang, maka orang tersebut secara otomatis akan tulus kepada kita. Padahal ketulusan bukan kontrak. Kita tidak dapat menuntut seseorang membalas ketulusan dengan kadar yang sama. Kita hanya dapat memilih bagaimana kita akan bersikap.

Jika kita berbuat baik, lakukan karena kita memilih untuk menjadi baik.

Jika kita membantu, bantulah karena kita mampu membantu.

Jika kita mempercayai seseorang, percayailah dengan kesadaran bahwa manusia memiliki kebebasan untuk memilih, termasuk memilih mengecewakan kita.

Kesadaran seperti ini bukan berarti kita harus menjadi manusia yang penuh kecurigaan. Justru sebaliknya. Kita tetap dapat menjadi manusia yang tulus tanpa menjadi manusia yang naif. Kita dapat mempercayai tanpa menyerahkan seluruh kendali atas hidup kita kepada orang lain. Kita dapat menghormati seseorang tanpa menutup mata terhadap kemungkinan bahwa ia juga memiliki kelemahan.

Sebab kepercayaan membutuhkan hati yang terbuka, tetapi kebijaksanaan membutuhkan mata yang tetap terbuka.

Pengalaman tersebut mengajarkan kepada saya bahwa kekecewaan tidak selalu datang dari orang yang kita benci. Kadang-kadang kekecewaan terbesar justru datang dari orang yang paling kita hormati. Itulah sebabnya luka akibat pengkhianatan kepercayaan terasa begitu dalam. Yang terluka bukan hanya hubungan, tetapi juga persepsi kita terhadap seseorang.

Kita mulai bertanya kepada diri sendiri: Apakah selama ini saya salah menilai? Apakah semua yang pernah saya percayai ternyata tidak berarti? Apakah hubungan yang saya anggap tulus ternyata hanya saya yang memaknainya demikian?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan bukan hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada dirinya sendiri.

Namun semakin saya memikirkannya, semakin saya menyadari bahwa saya tidak boleh membiarkan kesalahan seseorang mengubah karakter saya.

Jika seseorang mengkhianati kepercayaan saya, saya tidak ingin belajar menjadi pengkhianat.

Jika seseorang memperlakukan ketulusan dengan buruk, saya tidak ingin berhenti menjadi manusia yang tulus.

Jika seseorang membuat saya kecewa, saya tidak ingin menjadikan kekecewaan itu alasan untuk mengecewakan orang lain.

Karena jika saya melakukan hal yang sama, maka pengalaman tersebut tidak lagi menjadi pelajaran. Ia hanya menjadi rantai yang meneruskan luka dari satu manusia kepada manusia lainnya.

Di sinilah saya belajar tentang kedewasaan.

Kedewasaan bukan ketika kita tidak pernah kecewa. Kedewasaan adalah ketika kita kecewa, tetapi tidak membiarkan kekecewaan menguasai cara kita memperlakukan manusia.

Kedewasaan bukan ketika kita tidak pernah dikhianati. Kedewasaan adalah ketika kita dikhianati, tetapi tidak menjadikan pengkhianatan itu alasan untuk kehilangan prinsip.

Dan kedewasaan bukan ketika kita berhenti mempercayai manusia. Kedewasaan adalah ketika kita memahami bahwa kepercayaan harus diberikan dengan kebijaksanaan, bukan dengan kebutaan.

Filsuf Friedrich Nietzsche pernah menulis tentang bagaimana manusia perlu memiliki kekuatan untuk tidak sekedar menjadi produk dari pengalaman buruknya. Dalam kehidupan, kita memang tidak dapat memilih semua hal yang terjadi kepada kita, tetapi kita masih memiliki ruang untuk menentukan bagaimana kita meresponsnya. Di situlah letak kebebasan manusia.

Saya tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi.

Saya tidak dapat mengembalikan kepercayaan seperti sebelum semuanya berubah.

Saya tidak dapat memaksa seseorang memahami luka yang ia sebabkan.

Tetapi saya dapat memilih untuk tidak hidup sebagai korban dari peristiwa tersebut.

Saya dapat mengambil pelajarannya.

Saya dapat memperbaiki cara saya menempatkan kepercayaan.

Saya dapat belajar membedakan antara orang yang hanya pandai berbicara dan orang yang konsisten dalam tindakan.

Dan yang paling penting, saya dapat belajar bahwa tidak semua hubungan harus dipertahankan dengan mengorbankan harga diri.

Ada saatnya kita harus menerima bahwa seseorang pernah memiliki tempat penting dalam hidup kita, tetapi tidak lagi memiliki tempat yang sama setelah kepercayaan itu rusak.

Bukan karena kita membenci.

Bukan karena kita ingin membalas.

Tetapi karena kita memahami bahwa menjaga jarak terkadang merupakan bentuk penghormatan terakhir terhadap diri sendiri.

Kita tidak harus membenci seseorang hanya karena kita tidak lagi mempercayainya.

Kita tidak harus membalas perlakuan buruk dengan perlakuan buruk.

Kita bahkan tidak harus menjelaskan seluruh luka kita kepada orang yang telah menyebabkannya.

Ada hal-hal yang cukup kita serahkan kepada waktu.

Sebab waktu memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh kemarahan: ia dapat membuat kita memahami sesuatu tanpa harus membalasnya.

Saya menyadari bahwa mungkin kehidupan memang tidak menjanjikan bahwa setiap orang yang kita percaya akan menjaga kepercayaan itu. Kehidupan juga tidak menjanjikan bahwa orang yang kita hormati akan selalu sesuai dengan harapan kita. Tetapi kehidupan memberi kita kesempatan untuk belajar dari setiap perjumpaan.

Ada orang yang datang untuk menemani.

Ada yang datang untuk mengajarkan.

Ada yang datang untuk menguji.

Ada pula yang datang untuk menunjukkan bahwa kita harus lebih berhati-hati dalam memberikan kepercayaan.

Tidak semua orang yang mengecewakan kita adalah musuh. Sebagian mungkin justru menjadi guru yang memberikan pelajaran yang tidak akan pernah kita dapatkan dari buku mana pun.

Mungkin itulah makna terdalam dari sebuah kekecewaan.

Ia datang dengan rasa sakit, tetapi membawa pengetahuan.

Ia menghancurkan sebagian harapan, tetapi membangun kewaspadaan.

Ia membuat kita kehilangan sesuatu, tetapi pada saat yang sama mengajarkan kita mengenal diri sendiri.

Dan barangkali, setelah semuanya berlalu, kita akan memahami bahwa kehilangan kepercayaan kepada seseorang tidak selalu berarti kehilangan sesuatu yang berharga. Kadang-kadang, justru dari hilangnya kepercayaan itulah kita menemukan nilai diri kita sendiri.

Saya tidak menyesal pernah mempercayai seseorang.

Saya hanya belajar bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang harus diberikan kepada mereka yang mampu menjaganya.

Dan jika suatu hari nanti saya kembali mempercayai seseorang, saya ingin melakukannya bukan karena saya sudah lupa dengan luka masa lalu, tetapi karena saya telah berdamai dengannya.

Sebab hidup akan terlalu melelahkan jika setiap kekecewaan membuat kita menutup pintu bagi semua orang.

Kita tetap harus memberi ruang bagi manusia untuk hadir.

Tetapi kali ini dengan kebijaksanaan yang lebih matang.

Kita tetap boleh percaya.

Tetapi kita belajar melihat konsistensi.

Kita tetap boleh tulus.

Tetapi kita tidak lagi menggantungkan harga diri pada balasan ketulusan.

Kita tetap boleh menghormati.

Tetapi kita tidak perlu mengabaikan kenyataan.

Dan kita tetap boleh menyayangi seseorang, sambil memahami bahwa menjaga jarak terkadang adalah bentuk kasih yang paling sehat.

Mungkin setiap manusia akan mengalami satu fase dalam hidup ketika seseorang yang ia percaya justru menjadi sumber kekecewaan. Ketika fase itu datang, jangan buru-buru menganggap hidup tidak adil. Jangan pula buru-buru menyimpulkan bahwa semua manusia sama.

Satu orang yang mengkhianati kita bukan representasi seluruh umat manusia.

Satu hubungan yang gagal bukan berarti seluruh hubungan akan berakhir dengan kegagalan.

Satu kepercayaan yang rusak bukan berarti hati kita harus selamanya tertutup.

Ambillah pelajarannya, lepaskan kepahitannya.

Sebab kita tidak dapat mengubah masa lalu, tetapi kita dapat menentukan apakah masa lalu akan menjadi luka yang terus membusuk atau menjadi bekas luka yang mengingatkan kita bahwa kita pernah jatuh, pernah terluka, tetapi berhasil berdiri kembali.

Mungkin itulah kemenangan yang sesungguhnya.

Bukan ketika orang yang mengecewakan kita akhirnya menyadari kesalahannya, tetapi ketika kita mampu melanjutkan hidup tanpa kehilangan ketulusan, tanpa kehilangan prinsip, dan tanpa kehilangan kemampuan untuk menjadi manusia yang baik.

Karena orang yang pernah dikhianati tidak harus menjadi pengkhianat.

Orang yang pernah kecewa tidak harus menjadi sumber kekecewaan.

Dan orang yang pernah kehilangan kepercayaan tidak harus kehilangan kemanusiaannya.

Biarlah pengalaman mengubah cara kita melihat dunia, tetapi jangan biarkan pengalaman buruk mengubah siapa diri kita.

About the Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like these